Di kota pelabuhan yang padat neon, Alya bekerja sebagai kurir malam yang selalu dikejar tenggat. Setelah kecelakaan misterius di laboratorium tersembunyi, tubuhnya berubah. Luka yang seharusnya melumpuhkan justru memicu lonjakan kekuatan, kecepatan, dan indra. Setiap rasa sakit meninggalkan bekas memori yang bisa ia panggil sebagai kemampuan baru. Kabar tentang kekuatan anehnya cepat bocor, menarik perhatian geng jalanan, promotor arena ilegal, dan korporasi biotek yang menganggap Alya sebagai aset hilang. Didampingi Jun, peretas yang gemar live coding, Alya menelusuri rantai eksperimen yang menyasar warga kelas pekerja. Mereka menemukan bahwa proyek What Can’t Kill Me dirancang untuk mengubah trauma sosial menjadi komoditas. Saat kota nyaris meledak oleh hype pertandingan brutal dan kampanye korporat yang viral, Alya harus memilih. Ia bisa memonetisasi ketahanan tubuhnya dan kabur, atau membongkar sistem yang memberinya tenaga. Keputusan itu menuntunnya ke pusat data kota, tempat ia menghadapi pencipta eksperimen sambil menguji satu pertanyaan: jika rasa sakit membuatnya lebih kuat, apa yang masih bisa menghentikannya.